Cara Ja「Baccarat winning skills」karta Merawat dan Mengelola Bangunan Cagar Budaya

  • 时间:
  • 浏览:0

KBaccarat wiBaccarat wiBaccarat winning skillsnning skillsnning skillsarBaccarat winning skillsena faktor usia ini menBaccarat winning skillsyebabkan kualitas mutu bangunannya tentu telah dan akan terus berkurang semenjak didirikan pertama kali.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Meskipun demikian, masalah dana ini dapat diatasi dengan melibatkan pihak lain di luar pemerintah. 

Diketahui, kepemilikan bangunan Cagar Budaya di Provinsi DKI Jakarta bervariasi. Beberapa bangunan merupakan milik Pemerintah Pusat dan Provinsi. Sementara yang lain, adalah milik swasta, komunitas dan perorangan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bangunan Cagar Budaya merupakan kelompok bangunan yang usianya sudah memasuki 50 tahun atau lebih. 

Baca juga: Ada Cagar Budaya Rumah Gubernur Jenderal VOC di Depok, Apa Langkah Pemerintah?

Sementara bangunan yang dimiliki swasta, biaya perawatannya ditanggung oleh mereka, seperti Gedung Jasindo dikelola PT Jasindo.

Perawatan bangunan cagar budaya juga dapat dilakukan secara perorangan seperti perawatan Masjid Langgar Tinggi, yang dibiayai oleh donatur yang enggan disebutkan namanya.

Pun halnya dengan perawatan sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Iwan Henry Wardhana kepada Kompas.com, Jumat (1/10/2021).

"Untuk bangunan cagar budaya yang di bawah Pemrov DKI, misalnya perawatan kawasan kota tua ditanggung oleh APBD Pemrov DKI," jelasnya. 

Untuk itu, harus dilakukan perawatan secara intensif. Namun, dana yang dibutuhkan untuk perawatan bangunan-bangunan ini tidaklah sedikit.

Kemudian, lanjut Iwan, bangunan yang berada di bawah pengelolaan BUMN, dibayai oleh BUMN terkait, seperti Gedung Departemen Keuangan. 

Baca juga: Sebelum Jadi Cagar Budaya, Rumah Gubernur Jenderal VOC Sempat Akan Dibongkar